twitter
rss

1. CONTOH KASUS FAKTOR EKONOMIS
PENGANGGURAN

Kemajuan teknologi yang kini merambah keseluruh lapisan masyarakat memang sangat membantu dalam segala bidang. Banyaknya mesin-mesin impor yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia dapat menghasilkan barang yang berkualitas yang tak kalah dengan pembuatan manual oleh manusia.
Tetapi hal ini tidak saja membuat pemerintah dan masyarakat lega, namun juga menimbulkan masalah baru yang hingga kini belum dapat terselesaikan. Masalah yang tiap tahun bertambah rumit, dan makin banyak saja masyarakat yang menjalani profesi ini, yaitu pengangguran.
Pengangguran yang tinggi berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kemiskinan, kriminalitas dan masalah-masalah sosial politik yang juga semakin meningkat. Dengan jumlah angkatan kerja yang cukup besar, arus migrasi yang terus mengalir, serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini, membuat permasalahan tenaga kerja menjadi sangat besar dan kompleks.
Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. yang terjadi tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga menimpa orangtua yang kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup. Indikator masalah sosial bisa dilihat dari begitu banyaknya anak-anak yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi pengamen, pedagang asongan maupun pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik.

2. CONTOH KASUS FAKTOR BIOLOGIS

KERACUNAN MAKANAN

Keracunan makanan adalah penyakit yang dihasilkan akibat dari penggunaan makanan yang tercemar, patogen bakteri, virus, atau parasit yang mencemari makanan, dan juga kimia atau racun alami seperti sebagai jamur.
Onset gejala dan tingkat keparahan tergantung pada waktu yang infeksi yang diperlukan untuk kalikan dan memegang. Kali ini disebut periode inkubasi-nya. Ada lebih dari 250 penyakit yang bertalian dengan makanan.

CDC memperkirakan bahwa 68% dari kasus-kasus keracunan makanan yang disebabkan karena organisme tidak terdeteksi atau tidak diketahui. Hal ini karena kebanyakan kasus menyelesaikan sendiri dan tidak memerlukan rawat inap. Penyebab adalah terutama dua-organisme menular dan racun. Keracunan makanan dapat diklasifikasikan menurut keparahan dan awal.
3. CONTOH KASUS FAKTOR PSIKOLOGIS

KENAKALAN REMAJA

Lingkungan sekolah, sebagaimana fungsinya adalah pusat pendidikan. Akan tetapi, nyatanya secara efektif fungsi itu hanya terjadi siang hari, pada jam pelajaran atau kegiatan sekolah lain.
Pada malam hari, gedung sekolah sepi bak kuburan lantaran tak ada kegiatan. Tak jarang pula, gedung sekolah tak terjaga.

Tak aneh jika kemudian gedung sekolah digunakan oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk melakukan kegiatan yang menyimpang jauh dari tujuan luhur pendidikan. Kadang, gedung sekolah yang sepi ini digunakan untuk pesta miras.
Seperti yang terjadi di sebuah SD negeri di Kendaga Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah, baru-baru ini. Masyarakat kerap mendapati kenakalan remaja di fasilitas pendidikan ini.
Mereka pun resah. Namun, mereka pun sadar, tak tepat jika main hakim sendiri. Karenanya, mereka pun melaporkan pesta miras ke Kepolisian Sektor Banjarmangu.
Laporan itu lantas direspon oleh kepolisian dengan menggiatkan patroli yang disebut sebagai BLP (Blue Light Patrol). Benar saja, belum lama ini, polisi menciduk tujuh remaja usia tanggung.
Ironisnya, dua di antara tujuh remaja ini adalah remaja wanita. Mereka kedapatan tengah berpesta miras di lingkungan SD Negeri di Kendaga ini.

Bahkan, lebih miris lagi, lima dari tujuh remaja itu juga masih berstatus pelajar. Rupanya, pendidikan tak cukup untuk menghindarkan mereka dari miras.
4. CONTOH KASUS FAKTOR BUDAYA
KORUPSI
Jika ada yang bertanya kenapa korupsi masih ada di Indonesia dan kenapa tidak bisa diberantas, jeawabannya adalah karena korupsi sudah menjadi budaya. Korupsi bukanlah tentang satu atau dua orang. Korupsi adalah sistem yang melibatkan banyak orang yang terlibat didalamnya. Inilah contoh masalah sosial budaya yang lain yang ada di Indonesia saat ini.
Sudah banyak cara dilakukan sebagai upaya mengatasi masalah sosial budaya ini. Hanya saja, seperti disinggung diawal, korupsi sudah menjadi penyakit sosial yang menjangkiti masyarakat dan sulit untuk diberantas. Padahal korupsi sangat merugikan banyak pihak hanya untuk memuaskan nafsu pribadi pelakunya. Contoh masalah sosial budaya ini tidak bisa ditangani seorang diri. Melainkan dibutuhkan banyak pihak yang saling percaya dan terintegrasi dan berpegang pada satu sistem yang kuat. Tanpa sistem yang kuat, korupsi akan semakin sulit diberantas.




Sumber : 
https://medium.com/@madepratama0004/masalah-sosial-ekonomi-tentang-pengangguran-84ebc21a0438
https://m.liputan6.com/regional/read/3652905/pesta-miras-abg-di-gedung-sd-bikin-resah
https://andykomkom.wordpress.com/tag/faktor-biologis/

1. Pengertian dan contoh Virtual Reality

Virtual reality terdiri dari dua kata yaitu virtual dan reality yang berarti maya dan realitas. Virtual reality adalah teknologi yang dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer. Dalam teknisnya, virtual reality digunakan untuk menggambarkan lingkungan tiga dimensi yang dihasilkan oleh komputer dan dapat berinteraksi dengan seseorang.
Contoh teknologi virtual reality yang cukup sederhana adalah Google Cardboard karena dibuat menggunakan kertas. Google Cardboard ini belum begitu mempunyai banyak fungsi, tetapi dengan menggunakan Google Cardboard kita akan merasakan pengalaman virtual reality dengan cara menggabungkan smartphone yang memiliki sensor gyroscope dengan Google Cardboard.
Teknologi virtual reality ini biasanya digunakan pada bidang medis, arsitektur, penerbangan, hiburan, dan lain-lain. Contoh virtual reality banyak sekali, salah satunya seperti game FPS (First Peson Shooter) yang akan membuat pengguna merasa berada di dalam game tersebut. Selain itu, virtual reality digunakan pada foto dan video 360 derajat yang membuat pengguna merasa berada di tempat tersebut.
Selain itu, beberapa perangkat virtual reality yang cukup populer lainnya adalah Oculus Rift yang dikembangkan oleh Facebook. Oculus Rift memberikan pengalaman berbeda untuk pengguna dalam  bermain sebuah game. Selain  Oculus Rift, perangkat virtual realitylainnya adalah Samsung Gear VR, PlayStaion VR, HTC Vive, dan Octagon VR yang dibuat oleh perusahaan di Bandung.

2. Pengertian dan Contoh Augmented Reality
Augmented reality adalah integrasi informasi digital dengan lingkungan pengguna secara real time. Berbeda dengan virtual reality yang menciptakan lingkungan 3D yang benar-benar buatan. Teknologi augmented reality menggunakan lingkungan yang ada di dunia nyata kemudian menambahkan informasi baru di atasnya.
Untuk perangkat augmented reality yang menyita perhatian adalah perangkat besutan Microsoft yang diberi nama Microsoft HoloLens. Perangkat ini berfokus pada penggabungan hologram tiga dimensi yang bersifat augmented reality dengan dunia nyata. Selain itu, Google Glass yang berbentuk kacamata yang dibuat oleh Google merupakan kacamata yang menggunakan teknologi augmented reality yang memiliki banyak fungsi.
Teknologi augmented reality ini biasanya digunakan pada bidang militer, medis, komunikasi, dan manufaktur. Contoh yang sering digunakan oleh pengguna adalah Google Translate. Dengan ini, memungkinkan pengguna menerjemahkan kata berbahasa asing yang dilihat menggunakan kamera smartphone seperti papan pengumuman atau rambu-rambu.

Pemanfaatan teknologi AR saat ini telah berkembang dari bidang pemasaran hingga hiburan. Di bidang kesehatan, teknologi AR sudah bisa diterpkan melalui CT Scan atau MRI yang menjelaskan anatomi internal pasien kepada ahli bedah. Manfaat AR juga sudah bisa dirasakan untuk keperluan militer. Dengan adanya teknologi augmented reality prajurit atau tentara mampu berlatih seperti dalam perang sesungguhnya yang ditampilkan dalam dunia nyata melalui informasi dunia maya berupa game.

Salah satu aplikasi augmented reality yang saat ini bisa diakses adalah Ingress. Aplikasi game augmented reality ini merupakan besutan Google, dimana untuk memainkannya  kita hanya membutuhkan smartphone. Berbeda dengan augmented reality, teknologi virtual reality merupakan teknologi yang menjadikan Kita mampu berinteraksi dengan simulasi lingkungan oleh komputer.
Dengan demikian, perbedaan virtual reality dan augmented reality adalah virtual reality menggantikan kenyataan dengan dunia semu secara keseluruhan, sedangkan augmented reality menambahkan atau melengkapi kenyataan dengan benda-benda semu.

Sumber: 
https://www.google.co.id/amp/s/teknojurnal.com/pengertian-virtual-reality-dan-perbedaanya-dengan-augmented-reality/amp/
http://beritastartup.com/berita/gadget/100/contoh-aplikasi-virtual-reality-dan-augmented-reality.html

SIKLUS PENGEMBANGAN INOVASI SISTEM INFORMASI MODERN




Inovasi SI dan Teknologi informasi adalah pengunaan teknologi yang ada untuk menciptakan suatu inovasi. Tentu sekarang kita bisa melihat banyak inovasi teknologi yang ada pada zaman sekarang. Sangat jelas sekali banyak teknologi yang belum ada pada zaman dahulu namun sudah sangat menjamur pada zaman seakrang seperti handphone dan personal computer.

Manfaat

Inovasi sistem informasi dan teknologi informasi berguna untuk menunjang kegiatan pribadi, perusahaan maupun pemerintahan. Manfaat nya dapat berupa kemudahan mendapatkan informasi dengan tepat, mendapatkan data dengan mudah, membantu dalam mengambil keputusan.
Teknologi ini berfungsi untuk menggunakan seperangkat komputer untuk melakukan berbagai macam pekerjaan seperti mengolah data, sistem jaringan agar menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan menggunakan teknologi telekomunikasi untuk sebuah data agar dapat diakses secara global.

Contoh pengembangan Inovasi Sistem Informasi Modern :

Internet of Things

Internet of Things merupakan inovsi baru pada zaman sekarang. Internet of Things merupakan suatu konsep yang memungkinkan mengontrol benda yang ada disekitar kita hanya dengan terhubung dengan internet. Internet of Things pertama kali muncul pada tahun 1999 yang dikemukakan oleh Kevin Ashton. Contoh dari Internet of Things adalah sebuah kulkas yang dapat memberitahukan isinya melalui pesan singkat ke ponsel kita. Pada saat ini internet of things sudah menjadi focus dan tujuan dari perusahaan besar. Mereka berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi melalui internet of things. Berikut ini adalah contoh dari intenet of things:

1. eFishery
Memungkinkan memberikan makanan ikan dengan otomatis dan ukurn yang tepat. eFishery juga dapat mencatat setiap pemberian makanan ikan secara real-time. Pengguna eFishery dapat mengakses data secara mudah. Dengan adanya teknologi ini kita dapat mengatasi berbagai permasalahan peternakan seperti over Feeding, pemberian makan yang tidak teratur, atau pakan ikan yang diselewengkan.

2. Cloud Computing
Untuk memudahkan transaksi data yang terjadi pada setiap saat, diperlukan sebuah teknologi yang dapat memproses transaksi dalam waktu yang cepat. Cloud computing sangat bermanfaat karena mampu menjalankan program di berbagai komputer secara bersamaan. Teknologi ini menjadi trend perusahaan terkemuka seperti google dan Microsoft. Perusahaan-perusahaan tersebut sangat memanjakan para konsumennya.






Sumber :
http://hidayatf6-ug.blogspot.com/2016/10/inovasi-sistem-informasi-teknologi.html

1. Pengertian dan contoh Virtual Reality

Virtual reality terdiri dari dua kata yaitu virtual dan reality yang berarti maya dan realitas. Virtual reality adalah teknologi yang dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer. Dalam teknisnya, virtual reality digunakan untuk menggambarkan lingkungan tiga dimensi yang dihasilkan oleh komputer dan dapat berinteraksi dengan seseorang.
Contoh teknologi virtual reality yang cukup sederhana adalah Google Cardboard karena dibuat menggunakan kertas. Google Cardboard ini belum begitu mempunyai banyak fungsi, tetapi dengan menggunakan Google Cardboard kita akan merasakan pengalaman virtual reality dengan cara menggabungkan smartphone yang memiliki sensor gyroscope dengan Google Cardboard.
Teknologi virtual reality ini biasanya digunakan pada bidang medis, arsitektur, penerbangan, hiburan, dan lain-lain. Contoh virtual reality banyak sekali, salah satunya seperti game FPS (First Peson Shooter) yang akan membuat pengguna merasa berada di dalam game tersebut. Selain itu, virtual reality digunakan pada foto dan video 360 derajat yang membuat pengguna merasa berada di tempat tersebut.
Selain itu, beberapa perangkat virtual reality yang cukup populer lainnya adalah Oculus Rift yang dikembangkan oleh Facebook. Oculus Rift memberikan pengalaman berbeda untuk pengguna dalam  bermain sebuah game. Selain  Oculus Rift, perangkat virtual realitylainnya adalah Samsung Gear VR, PlayStaion VR, HTC Vive, dan Octagon VR yang dibuat oleh perusahaan di Bandung.

2. Pengertian dan Contoh Augmented Reality
Augmented reality adalah integrasi informasi digital dengan lingkungan pengguna secara real time. Berbeda dengan virtual reality yang menciptakan lingkungan 3D yang benar-benar buatan. Teknologi augmented reality menggunakan lingkungan yang ada di dunia nyata kemudian menambahkan informasi baru di atasnya.
Untuk perangkat augmented reality yang menyita perhatian adalah perangkat besutan Microsoft yang diberi nama Microsoft HoloLens. Perangkat ini berfokus pada penggabungan hologram tiga dimensi yang bersifat augmented reality dengan dunia nyata. Selain itu, Google Glass yang berbentuk kacamata yang dibuat oleh Google merupakan kacamata yang menggunakan teknologi augmented reality yang memiliki banyak fungsi.
Teknologi augmented reality ini biasanya digunakan pada bidang militer, medis, komunikasi, dan manufaktur. Contoh yang sering digunakan oleh pengguna adalah Google Translate. Dengan ini, memungkinkan pengguna menerjemahkan kata berbahasa asing yang dilihat menggunakan kamera smartphone seperti papan pengumuman atau rambu-rambu.
Dengan demikian, perbedaan virtual reality dan augmented reality adalah virtual reality menggantikan kenyataan dengan dunia semu secara keseluruhan, sedangkan augmented reality menambahkan atau melengkapi kenyataan dengan benda-benda semu.

Sumber: 
https://www.google.co.id/amp/s/teknojurnal.com/pengertian-virtual-reality-dan-perbedaanya-dengan-augmented-reality/amp/
x

APLIKASI YANG DIGUNAKAN PADA WEB 1.0, 2.0, 3.0

  • WEB 1.0


Web 1.0 merupakan website yang digunakan untuk pertama kalinya,dimana seluruh data yang dibuat dan ditampilkan didalamnya serta design dari web tetrsebut itu semuanya ditentukan oleh admin, hingga sedikit terasa agak monoton. Web 1.0 tidak terlalu interaktin dikarenakan sifat dari Web 1.0 adalah read, maka ketika ada seseorang yang akan menambahkan atau memberikan komentar, seseorang tersebut harus menghubungi langsung admin yang bersangkutan melalui address yang telah ditentukan oleh admin. Jadi dalam penggunaan Web 1.0 ,kita hanya bisa untuk browsing sesuatu. Dan juga pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya,membuatnya menjadi tidak praktis.
Ciri-ciri dari situs Web 1.0 yaitu;
Halaman statis, perubahan ataupun isinya seluruhnya tergantung oleh pihak admin/ pemilik web tersebut.
Penggunaan framesets.
Milik HTML ekstensi seperti dan tag diperkenalkan pada awal perang browser.
Online guestbook.
GIF tombol, biasanya 88×31 piksel dalam ukuran web browser dan mempromosikan produk lain.
Pengguna akan mengisi formulir, dan setelah mereka mengklik mengirimkan email klien akan mencoba untuk mengirim email yang berisi formulir rincian.

  • Contoh Dari WEB 1.0
  1. Double Click
  2. Ofoto
  3. Akamai
  4. Mp3.com
  5. Britannica Online
  6. Page View
  7. Content Management System
  8. Directory ( Taxonomy )
  9. Stickiness

  • WEB 2.0


Istilah Semantik lebih dahulu dipakai sebelum istilah Web 2.0. Web 2.0 dikembangkan pada tahun 2004. Perkembangan dari Web 2.0 lebih pada penyajian konten dan tampilan di dalam suatu website, yang versi yang sebelumnya berpusat pada sang pemilik website. Web 2.0 lebih bersifat interaktif daripada Web 1.0 dan sifatnya yang Read Write, sehingga memudahkan dalam menambahkan materi,berkomentar ,dan lain-lain,yang dilakukan oleh pembaca web tersebut. Ini juga dikarenakan sifatnya untuk share,collaborate dan exploite.
Dalam web 2.0 user interface suatu situs web yang digunakan adalah teknologi flex (aplikasi rich internet berbasis flash dari macromedia yang sekarang adobe), lazlo(platform aplikasi flash open source) atau menggunakan ajax secara intensif seperti gmail atau google map maka situs itu bisa dikatakan merupakan situs tipe web 2.0, selain itu aktivitas drag and drop, auto complete ,chat, voice itu juga karena adanya dukungan Ajax. AJAX adalah penggabungan dari JavaScript dan XML yang menekankan pada pengelolaan konten.
Dan gabungan aplikasi lainnya adalah HTML dengan yang dinamis. XML digunakan untuk mendefinisikan format data. Dibawah ini beberapa alplikasi dan teknik yang dipakai dalam pengembangan Web 2.0

  • Ciri- ciri dari Web 2.0 ;
  1. Konten dinamis, metadata, web standar dan skalabilitas.
  2. Mudah untuk memasukkan data atau mengambil data dari system.
  3. Berbasis web murni.
  4. Pengguna memiliki datanya sendiri pada situs.
  5. Pelaku utama Perusahaan Pengguna/Komunitas.
  6. Hubungan dengan server Client-server Peer to peer.
  7. Bahasa pemrograman penampil konten HTML XML.
  8. Pola hubungan penerbit-pengguna Searah Dua arah/ Interaktif.
  9. Pengelolaan konten Taksonomi/direktori Folksonomi/penanda/tag.
  10. Penayangan berbagai kanal informasi Portal RSS/Sindikasi.
  11. Hubungan antar pengakses Tidak ada Berjejaring.
  12. Sumber konten Penerbit/pemilik situs Pengguna.


Contoh-contoh Web 2.0 sebenarnya adalah website-website situs yang sudah tidak asing lagi bagi seseorang yang sering menggunakan Internet, dan mungkin merupakan situs-situs yang diakses setiap harinya, seperti Wikipedia, e-Bay, Friendster, dan masih banyak lagi. Apakah keunikan dan website-website tersebut sehingga menyandang predikat Web 2.0? Menurut definisi oleh Tim O’Reilly (pendiri dari O’Reilly Media), Web 2.0 adalah sebuah revolusi bisnis pada industri komputer yang dikarenakan oleh perpindahan Internet menjadi sebuah platform.
Contoh untuk mempermudah pemahaman konsep Web 2.0 adalah dengan melihat contoh perbandingan antara website konvensional (Web 1 .0) dengan website yang telah termasuk kedalam Web 2.0. Pada era booming dot com, sedemikian banyak orang yang membuat website pribadi sehingga halaman pertamanya rata – rata menuliskan “Welcome to My Personal Homepage”, tidak lupa menambahkan fasilitas buku tamu dan web counter. Dengan perubahan kearah konsep Web 2.0, website-website pribadi itu menjelma menjadi blog. Blog adalah Web 2.0, sehingga kita akan terlihat ketinggalan zaman ketika menanyakan kepada rekan kita apakah telah memiliki website pribadi, tetapi akan terlihat lebih modern dan gaul ketika menanyakan apakah ia memiliki blog. Hal tersebut adalah sebuah revolusi yang jelas terlihat pada industri komuter saat ini. Secara teknis mungkin tidak ada hal yang benar benar merupakan teknologi baru untuk membuat blog, tetapi lihatlah bahwa sebuah web yang menyediakan host service blog, seperti wordpress.com, blogspot.com, dan lain sebagainya secara strategis telah menjadi sebuah platform untuk komunitas blogger berkolaborasi.

  • Contoh Dari WEB 2.0
  1. Google adsense
  2. Flickr
  3. BitTorrent
  4. Napster
  5. Wikipedia
  6. Cost Per Click
  7. Wikis
  8. Tagging ( Folksonomy )

  • Web 3.0


Web 3.0 adalah generasi ketiga dari layanan internet berbasis web. Konsep Web 3.0 pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001, saat Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web, menulis sebuah artikel ilmiah yang menggambarkan Web 3.0 sebagai sebuah sarana bagi mesin untuk membaca halaman-halaman Web. Hal ini berarti bahwa mesin akan memiliki kemampuan membaca Web sama seperti yang manusia dapat lakukan sekarang ini.
Web 3.0 berhubungan dengan konsep Web semantik, yang memungkinkan isi web dinikmati tidak hanya dalam bahasa asli pengguna, tapi juga dalam bentuk format yang bisa diakses oleh agen-agen software. Beberapa ahli bahkan menamai Web 3.0 sebagai Web Semantik itu sendiri.
Keunikan dari Web 3.0 adalah konsep dimana manusia dapat berkomunikasi dengan mesin pencari. Kita bisa meminta Web untuk mencari suatu data spesifik tanpa bersusah-susah mencari satu per satu dalam situs-situs Web. Web 3.0 juga mampu menyediakan keterangan-keterangan yang relevan tentang informasi yang ingin kita cari, bahkan tanpa kita minta.

  • Web 3.0 terdiri dari:
  1. Web semantik
  2. Format mikro
  3. Pencarian dalam bahasa pengguna
  4. Penyimpanan data dalam jumlah besar
  5. Pembelajaran lewat mesin
  6. Agen rekomendasi, yang merujuk pada kecerdasan buatan Web

Web 3.0 menawarkan metode yang efisien dalam membantu komputer mengorganisasi dan menarik kesimpulan dari data online. Web 3.0 juga memungkinkan fitur Web menjadi sebuah sarana penyimpanan data dengan kapasitas yang luar biasa besar.
Walaupun masih belum sepenuhnya direalisasikan, Web 3.0 telah memiliki beberapa standar operasional untuk bisa menjalankan fungsinya dalam menampung metadata, misalnya Resource Description Framework (RDF) dan the Web Ontology Language (OWL). Konsep Web Semantik metadata juga telah dijalankan pada Yahoo’s Food Site, Spivack’s Radar Networks, dan sebuah development platform, Jena, di Hewlett-Packard.
Jika diformulasikan, web 3.0 bisa dijabarkan dalam perumusan berikut : WEB 3.0 = 4C + P +VS 4C = content, commerce, community, context P = personality VS = virtual search
Maka, web 3.0 sebagai asisten personal penggunanya yang tahu segala sesuatu tentang penggunanya dan mengakses internet untuk mencari jawaban dari kebutuhannya.

Contoh web 3.0 : search engine seperti Google (http://www.google.co.id.).



  • Sumber: http://muhammaddsucipta.blogspot.com/2017/11/31-contoh-aplikasi-yang-digunakan-untuk.html?m=1

CONTOH APLIKASI SISTEM PAKAR
Sistem pakar merupakan cabang dari Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan sistem untuk mengadopsi ilmu-ilmu yang dimiliki oleh seorang pakar. Dengan demikian pada sistem pakar memungkinkan kita untuk layaknya berinteraksi dengan seorang pakar.
Ide awal dari sistem pakar metode CBR (Case Based Reasoning) adalah melakukan adaptasi solusi yang pernah digunakan untuk memecahkan masalah lama dan menggunakan lagi solusi tersebut untuk masalah yang baru. Pada aplikasi ini kami mengambil contoh kasus untuk Konsultasi Gangguan Psikologis dengan kriteria dan jenis penyakit yang dapat diubah ataupun ditambah untuk disesuaikan dengan kebutuhan (Aplikasi bersifat dinamis) sehingga dapat diubah dengan mudah untuk digunakan di berbagai kasus Sistem Pakar yang lain.
Alur kerja sistem pakar metode CBR
  1. Klik menu Konsultasi.
  2. Isi nama anda pada form yang tersedia, kemudian klik lanjutkan.
  3. Setelah itu pilih gejala yang sesuai dengan kondisi anda (gejala fisik, gejala emosional, gejala sikap, gejala pikiran), jika sudah klik lanjutkan.
  4. Anda akan melihat hasil konsultasi disertai dengan solusi dari penyakit anda.
  5. Selesai.
User akses aplikasi sistem pakar
Ada 2 (dua) jenis user yang dapat menggunakan aplikasi sistem pakar metode CBR dengan studi kasus konsultasi gangguan psikologis ini, yaitu :
  1. Administrator
    Dengan menggunakan user administrator anda dapat mengelola data-data yang ada seperti data gejala, data solusi, data penyakit, data kasus, dan lain sebagainya.
  2. Pasien
    User pasien merupakan user yang hanya dapat melakukan konsultasi pada aplikasi sistem pakar metode CBR ini.

SUMBER: https://www.sarjanakomedi.com/2017/12/24/aplikasi-sistem-pakar-metode-cbr/

1. Layanan strategis agar Sistem Informasi berkembang cepat


Profesional teknologi informasi bekerja di bidang yang secara inheren rentan terhadap perubahan. Sementara konsep dasar seperti pengembangan perangkat lunak, administrasi jaringan atau sistem operasi dan persyaratan keamanan berjalan di tempat selama beberapa dekade, evolusi infrastruktur merupakan faktor yang telah berkembang lebih umum dalam beberapa tahun terakhir.

Evolusi ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kerja teknologi informasi dan pilihan karir yang tersedia di dalamnya. Banyak jenis pekerjaan sekarang dapat dilakukan dari jarak jauh (atau luar negeri, memprovokasi persaingan lebih global), sistem fisik digantikan oleh edisi virtual dan seluruh pusat data bergerak naik ke awan, membahayakan peran tradisional tertentu, sementara juga meletakkan dasar untuk peluang baru.

Ada yang mengatakan selama bertahun-tahun sekarang bahwa pekerja TI akan mendapat manfaat dari pengetahuan bisnis yang lebih kuat agar tetap kompetitif. Faktor ini tidak diragukan lagi penting sebagai garis kerja yang kabur - administrator sistem diparkir di ruang server, memperbaiki masalah saat menghindari kontak manusia digantikan oleh teknologi dan komunikasi, ahli berpengalaman dalam pelatihan dan manajemen proyek, menawarkan tatap muka solusi diarahkan memenuhi kebutuhan perusahaan daripada membangun mereka.

Namun, penting untuk diingat bahwa sementara keterampilan bisnis berguna untuk membangun relevansi dan membuktikan nilai seseorang, berfokus pada teknologi yang tepat merupakan bagian yang lebih besar dari gambar - itu merupakan dasar dari perdagangan.

Keterampilan bisnis hanya berguna ketika mereka menganut teknologi bermakna untuk memanfaatkan atas mereka. Mengetahui tren akan lepas landas, mendapatkan momentum dan menjadi umum, dapat membuktikan masa depan karir IT dan memastikan Anda tetap berada di atas permainan - dan tinggal di permintaan.
​• ​ CONTOH KASUS
Website situs  E-commerce menggunakan API adalah Amazon.com. Amazon.com merilis API sehingga pengembang situs web dapat lebih mudah mengakses informasi produk Amazon, menggunakan Amazon API, sebuah situs web pihak ketiga dapat memposting link langsung ke produk Amazon dengan harga yang terupdate dan pilihan untuk “Buy”.

Nama : Bianca Ayu Saraswati
NPM : 1B117083
Kelas : 5 KA 44


Chapter 10
Selecting, Testing, and Auditing IT Applications

INFORMATION TECHNOLOGY (IT) APPLICATIONS are the tools that bring value to computer systems; they drive many if not most of today’s enterprise business processes. These IT applications range from the relatively simple, such as an accounts payable system to pay vendor invoices, to the highly complex, such as an enterprise resource management (ERM) set of multiple interrelated database applica- tions to control virtually all enterprise business processes.

A typical enterprise may use a large and diverse number of production IT applications. These applications support a wide variety of functions within the enter- prise, starting with accounting applications but also including such areas as manu- facturing, marketing, distribution, and others, depending on business activities. These supporting applications may be implemented using a variety of IT technologies, such as centralized systems with telecommunication networks, Internet-based network systems, client-server server-based applications, and even older mainframe batch- processing systems. Some of these applications may have been developed in-house but increasingly large numbers of them are based on purchased software packages installed locally or accessed through Web-based service providers. In-house-developed applications may be written in a programming language such as C# (also called C- sharp) or Visual Basic, a database report-generator language such as SQL, or the object- oriented language Java. Application documentation may range from very complete to almost nonexistent.

IT auditors should survey the active applications and select the more critical and appropriate ones for review. We also discuss approaches to effectively review internal accounting controls in IT applications, using several different types of applications as examples. Finally, the chapter discusses audit approaches for evaluating and testing those application controls as well as techniques for reviewing new applications under development. We focus on the internal control characteristics of different types of applications and on how to select appropriate applications in internal controls reviews. There are many differences from one application to another; this chapter focuses on how an IT auditor should select higher-risk applications as candidates for IT audit reviews, the tools and skills needed to understand and document application internal controls, and, finally, processes to test and evaluate those applications.

IT APPLICATION CONTROL ELEMENTS People not familiar with IT sometimes think of a computer application just in terms of the system’s output reports or the data displayed on terminal screens. However, every application, whether a Web-based service application, an older mainframe system, a client-server application, or an office productivity package installed on a local desktop system, has three basic components: (1) the system inputs, (2) the programs used for processing, and (3) the system outputs. Each of these has an important role in an application’s internal control structure, and an IT auditor should understand these components when reviewing an IT application.

Application Input Components Although an application’s programs process the data, determine the outputs, and have a major impact on controls, an IT auditor should understand the nature and sources of the input components.

Inputs from Data Collection or Other Input Devices The original data collection sheet was the first step in the input chain, and early IT auditors were concerned that all transactions were keypunched correctly. Technology has effectively eliminated those punched-card input records today. Batch-type transactions that must be entered into an application are no longer entered by a specialized ‘‘keypunch’’ or data-entry department. Rather, operational departments use online terminals to enter their transactions for collection and subsequent process- ing. Following a processing schedule, these transactions may be input or collected and updated later in a batch mode. The data entry programs used to capture them often have some transaction-screening capabilities to eliminate any low-level errors common to earlier batch input system An IT auditor reviewing application input controls always should look for some basic internal control elements that should be found in all IT applications. For example, there should be some means of checking that only correct data is entered. A computer program that, through its supporting validation tables, can verify that a product part or employee number is or is not valid cannot easily verify that the current quantity should have been entered as 100 as opposed to 10.s. In many other situations, the entry of a transaction updates files in a real-time mode.

Application Inputs from Other Automated Systems IT applications often are highly integrated, with one application generating output data for processing by another. The transaction entered into one application may impact a variety of other interrelated applications. Thus an error or omission of an input at one point in a chain of applications may impact the processing of another connected application. The IT auditor may be interested in understanding application input controls for application X. However, files from applications A, B, and C may provide inputs to X while D and E provide inputs to applications A and C, respectively. An IT auditor typically does not have the time or resources to review all of these processes and must decide on the most critical ones and assume that the other less critical supporting applications are generating appropriate transactions.

PERFORMING AN APPLICATION CONTROLS REVIEW: PRELIMINARY STEPS
Once an application has been selected for review, IT audit should gain a more detailed understanding of the purpose or objectives of that application, the technology approaches used, and the relationship of the application to other related processes.    It may be necessary for the assigned IT auditor to do some background reading and study special technical aspects of that application. Auditors often can acquire this knowledge by reviewing past audit workpapers and applications documentation and by interviewing IT and user personnel. As an early step in this review process, IT audit should perform a walk-through of the application to better understand how it works and how its controls function. These preliminary steps will allow an IT auditor to develop specific audit tests of the application’s more significant controls.

COMPLETING THE IT APPLICATION CONTROLS AUDIT Usually more difficult for an IT auditor to define than the objectives for an IT audit of general controls, thespecific audit objectives supporting a detailed IT application audit can vary depending on whether the review covers a single application or is a module of a larger business process, such as an ERP system. The IT auditor’s review strategy depends on whether (1) the application primarily uses purchased or in-house-developed software components; (2) the application is integrated with others or is a separate process; (3) it uses Web-based service providers, client-server or older, legacy computer system methods; and (4) its controls are largely automated or require extensive human intervention actions.

AUDITING APPLICATIONS UNDER DEVELOPMENT It is often much more efficient for an IT auditor to review an IT application for its internal controls while it is being developed and implemented rather than after it has been placed into production. The role of the IT auditor here is similar to that of a building inspector reviewing a new construction project: It is difficult to make constructive recommenda- tions regarding the completed building. Even if some problems were found, the inspector would be under considerable pressure not to identify ones that would require significant portions of the building to be torn down and rebuilt. Rather, the building inspector identifies problems during construction and suggests how they can be corrected before completion. Similarly, the effective IT auditor should suggest corrective actions to improve system controls along the way. It is easier to implement changes during an application implementation process than after it has been completed and the system has been placed into production.

Objectives and Obstacles of Preimplementation Auditing
The concept of preimplementation reviews was first proposed by the then-new profes- sion of what was called EDP auditing in the early 1970s; at that time, many traditional internal auditors were opposed to this approach. Traditionalists argued that if an auditor reviewed an application in advance of its implementation, it would be difficult to come back later and review that same application after implementation. The argument was that if an IT auditor had ‘‘blessed’’ the internal controls of a system under development, how could that same auditor come back later and perform a critical review? Over the years, there have been many changes to the application development process. New applications frequently are based on vendor-supplied software components, and internal auditing standards, as discussed in Chapter 3, allow an internal auditor also to act as a consultant. IT auditors have also grown to accept preimplementation reviews, acting as auditors and not consultants.

IT auditors, however, face four major obstacles when reviewing new applications under development:

1.‘‘Them versus us’’ attitudes. Although IT audit and general management both may accept the concept, IT management often expresses wariness or even resent- ment when IT audit announces its plan to review an application that is under development and still has many details yet to be worked out. The announcement ‘‘Hello, I’m from IT audit, and I am here to help you’’ may not be received favorably. Good preimplementation review procedures can establish respect for IT audit’s role and add value in the development process. An IT auditor who spends many hours reviewing a complex new application with some potential control-related issues and who concludes only that ‘‘Documentation needs to be improved’’ will not be viewed as having added much value to the process.

2. IT auditor role problems. The IT auditor’s role must be clearly understood by all parties and might be defined as:

Ø  An extra member of the implementation team. The systems design team invites the IT auditor to design review meetings. However, that IT auditor will be more of an observer than a typical member of that team. The auditor’s objective is to gather data regarding key controls and processing procedures for a subsequent audit report.
Ø  A specialized consultant. Sometimes an IT auditor can become so involved in the systems design and development process that he or she is viewed as just another design team consultant making recommendations during the course of the implementation process. IT audit should take care to not be viewed in that light. Following the standards foran IT auditorasanenterprise consultant, asdiscussed in Chapter 3, an IT auditor should act primarily as an independent reviewer providing help to the team, not as a specialized consultant who is part of the design process.
Ø  An internal controls expert. In any review, IT audit always should make certain that a review of internal controls is included in the new project. However, the auditor should not be the primary designer of those controls. Otherwise, he orshe may have problems reviewing the completed application and its controls at some later date.
Ø  An occupant of the ‘‘extra chair.’’ Sometimes an IT auditor does not do a proper level of preparatory work during a preimplementation review. Systems management may request an auditor to review various materials and attend design review meetings. An IT auditor who does not prepare but simply attends these meetings too frequently provides no real contributions. Nevertheless, if problems occur in the future, management may say ‘‘But IT audit was there!’’
Ø  State-of-the-art awareness needs. New systems applications often involve new technologies or business processes. IT auditors should be involved in their own continuous education programs to better understand state of the are issues. A general understanding of new technologies may require some additional IT auditor homework—reading vendor manuals and other documentation.
Ø  Many and varied preimplementation candidates. The typical larger enterprise may have a significant number of new application projects that are potential candidates for preimplementation reviews. These projects will all have different start times, durations, and completion dates. An IT auditor needs to perform an ongoing risk assessment to select the most appropriate new review candidates.

Preimplementation Review Objectives A key objective of application preimplementation auditing is to identify and recom- mend control improvements such that they can be potentially installed during the application development process. However, rather than just assuming that a new IT project is a given and then reviewing its controls, IT audit also should aim to review the justification and definition of the new development project. There should be a good project management system in place that properly plans development steps and measures actual progress against those planned steps. For major projects, IT audit can evaluate the adequacy of project development controls used for the particular application. This preimplementation phase is also an excellent time for an IT auditor to gain an understanding of the new application sufficient to design future automated audit tests and to define the CAATTs as discussed in Chapter 13. Whether the implementation involves a vendor software package or an application developed in- house, IT auditors should gain overall understandings of all aspects of those applica- tion projects.

Preimplementation Review Problems Preimplementation reviews often present IT audit with some very serious review and scheduling problems, including too many review candidates given limited IT audit resources. IT auditors sometimes make the mistake of announcing their intent to review all new applications and all major modifications prior to implementation. In a larger enterprise, dozens or even hundreds of user requests for new or major revision projects may be initiated regularly. IT audit will have no time for comprehensive preimple- mentation reviews and only time for little more than nominal rubber-stamp approval signatures.

Preimplementation Review Procedures Many of the same audit procedures discussed in other chapters for IT internal controls  reviews can also be followed for reviews of new applications under development. All too often, IT auditors argue that applications under development are somehow ‘‘different.’’ However, as fluid and subject to ongoing developmental change as applications under development are, many of the same control objectives and  procedures  discussed  previ- ously for IT applications are quite appropriate for these reviews. IT auditors should tailor their preimplementation reviews along the various phases a new project’s development, starting with initial project initiation, to requirements definitions  definition,  to  develop- ment and testing, and finally to  implementation.  These  same  basic  steps  apply  whether the application is a major in-house-developed one, a  vendor  service-based  software  package, or a user-led set of desktop applications. The only difference is on emphasis depending on the application development approach.

IMPORTANCE OF REVIEWING IT APPLICATION CONTROLS An IT auditor should place a major emphasis on reviewing the supporting IT appli- cations when performing reviews in other areas of the enterprise. Even though good general or interdependent IT control procedures may be in place, individual application controls may not all be that strong. An enterprise’s applications may have been developed through a series of compromises among users or without any level of proper quality assurance. To evaluate IT application controls properly, IT audit needs a good understanding of both IT procedures and the specific control and procedural character- istics of each application area.
The effective IT auditor should spend a substantial amount of audit effort reviewing and testing controls over specific IT applications and new applications in the develop- ment process. Such reviews will provide assurance to general management that applications are operating properly and to IT management that their design and controls standards are being followed, allowing them to place greater reliance on    the output results of such applications. An understanding of application control reviews is a key skill requirement for all IT auditors.

NOTES:

1. Developed in the 1960s, the computer programming language COBOL stands for Common Business Oriented Language. It is still used today as a key programming language.

2.Numerous textbooks and references describe object-oriented programming. A search on the Internet will provide many references.

Nama : Bianca Ayu Saraswati
NPM : 1B117083
Kelas : 5KA44

1. Pengertian Penelitian Eksploratif
Penelitian eksploratif adalah salah satu jenis penelitian sosial yang tujuannya untuk memberikan sedikit definisi atau penjelasan mengenai konsep atau pola yang digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti belum memiliki gambaran akan definisi atau konsep penelitian. Peneliti akan mengajukan what untuk menggali informasi lebih jauh. Sifat dari penelitian ini adalah kreatif, fleksibel, terbuka, dan semua sumber dianggap penting sebagai sumber informasi.

2. Tujuan Penelitian Eksploratif
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjadikan topik baru lebih dikenal oleh masyarakat luas, memberikan gambaran dasar mengenai topik bahasan, menggeneralisasi gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat tentatif, membuka kemungkinan akan diadakannya penelitian lanjutan terhadap topik yang dibahas, serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam penelitian berikutnya.

3. Kelebihan Penelitian Eksploratif
Kelebihan dari penelitian ini adalah tatacara atau langkah-langkah penelitiannya tidak terstruktur baku seperti penelitian deskriptif, dan jauh lebih luwes dapat diubah-ubah sesuai situasinya.

4. Kekurangan Penelitian Eksploratif
Kekurangan dari penelitian ini adalah harus memerlukan penelitian lanjuta, sehingga penelitian ini tidak bisa langsung selesai tetapi harus ada lanjutannya.


5. Contoh Penelitian Eksploratif
Contoh penelitiannya adalah misalnya, penelitian tentang etos kerja masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan.


Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Penelitian_eksploratif

1. Bagaimana Sariwangi bisa bangkrut?


Perusahaan teh PT Sariwangi Agricultural Estate Agency berdiri sejak tahun 1962.
Kantornya berada di Gunung Putri Bogor Jawa Barat.
Tahun 1970-an, Sariwangi kemudian memperkenalkan revolusi minum teh lewat produk teh celup. Saat diluncurkan, produk teh yang sukses luar biasa hingga kini ini kemudian diberi merek Teh Celup Sariwangi.

PT Sariwangi Agricultural Estate Agency bersama perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, didera kesulitan. Dua perusahaan tersebut terjerat utang hingga Rp1,5 triliun ke sejumlah kreditur. (Teh Sariwangi.com)
Tapi, produk ini kemudian diakuisisi oleh Unilever pada 1989.


PT Sariwangi Agricultural Estate Agency kemudian mencoba berinvestasi di penggunaan teknologi untuk meningkatkan produksi perkebunan. Perusahaan ini mengembangkan sistem drainase atau teknologi penyiraman air dan telah mengeluarkan uang secara besar-besaran.



Presiden Direktur Sariwangi, Andrew Supit. Perusahaan teh Sariwangi dinyatakan bangkrut atau pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat setelah dinyatakan tak mampu mengembalikan utang sebesar Rp 1 triliun. Namun hasil yang didapat tidak seperti yang diharapkan. Sudah terlanjur utang besar, tapi pendapatan tak sesuai prediksi. Ujung-ujungnya, pembayaran cicilan utang tersendat dan sejumlah kreditur pun mulai mengajukan tagihan.


Masalah keuangan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency bersama perusahaan afiliasinya PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, mulai terendus pada tahun 2015. Dua perusahaan ini ternyata terjerat utang hingga Rp 1,5 triliun ke sejumlah kreditur.


Tercatat, ada lima bank yang mengajukan tagihan pada tahun itu, yakni PT HSBC Indonesia, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Rabobank International Indonesia, PT Bank Panin Indonesia Tbk, dan PT Bank Commonwealth.


2. Apa hubungan Sariwangi dengan Unilever?

Manajemen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menegaskan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (MPISW) bukan merupakan bagian atau anak usaha dari PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Head of Corporate Communication PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Maria Dewantini Dwianto, menuturkan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency pernah menjadi rekanan usaha Unilever untuk produksi merek teh Sariwangi. Akan tetapi, perseroan sudah tidak bekerja sama dengan SAEA.

Sebelumnya, Unilever Indonesia bertindak sebagai distributor teh Sariwangi. Unilever Indonesia akuisisi merek Sariwangi pada 1989. Sedangkan SAEA berdiri sendiri dan memiliki infrastruktur.

"Saat ini Unilever sudah tidak memiliki kerja sama apa pun dengan SAEA. Unilever tetap produksi teh Sariwangi sehingga teh Sariwangi akan terus bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia," ujar Maria, seperti ditulis Kamis (18/10/2018).

Seperti diberitakan Liputan6.com sebelumnya, Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan pembatalan perjanjian perdamaian yang diajukan PT Bank ICBC Indonesia terhadap PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Keputusan itu membuat Sariwangi dan Indorub resmi berstatus pailit.
"Kedua perusahaan itu sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat," ujar Kuasa Hukum Bank ICBC Indonesia, Swandy Halim dari Kantor Hukum Swandy Halim & Partners saat dihubungi Liputan6.com.

Berdasarkan keputusan pengadilan itu, Sariwangi dan Indorub telah terbukti lalai menjalankan kewajiban sesuai kesepakatan perdamaian dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang sebelumnya disepakati pada 9 Oktober 2015.
Di PKPU, Sariwangi tercatat memiliki utang Rp 1,05 triliun. Adapun Indorub punya utang Rp 33,71 miliar kepada sejumlah bank, termasuk ICBC Indonesia.

Hingga 24 Oktober 2017, ICBC memiliki tagihan senilai Rp 288,93 miliar kepada Sariwangi, dan Rp 33,82 kepada Indorub. Nilai tagihan tersebut sudah termasuk bunga yang juga harus dibayarkan Sariwangi dan Indorub.

"Sariwangi tidak pernah membayar cicilan dan tidak pernah hadir di persidangan. Kalau Indorub datang di sidang dan dia melanggar perjanjian karena telat membayar cicilan setahun lebih," jelas dia. Swandy menyatakan, setelah putusan ini hakim akan menunjuk kurator untuk mengurus aset kedua perusahaan tersebut. "Dari hasil kurator, nanti asetnya dilelang untuk membayarkan utang," tuturnya.

3. Bagaimana peran Unilever terhadap Sariwangi?

Saat ini Unilever sudah bukan lagi distributor dari Sariwangi karena Unilever sudah memutuskan perjanjian kerja sama dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA).

4. Bagaimana kondisi Sariwangi sekarang terhadap produknya?

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dikabarkan telah memutuskan kerjasama dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA). Sebelumnya PT SAEA menjadi rekan usaha Unilever dalam memproduksi teh celup dengan brand Sariwangi, dimana Unilever Indonesia bertindak sebagai distributor teh celup tersebut.


Sancoyo Antarikso, Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk menegaskan saat ini perusahaan memproduksi brand teh celup itu sendiri, serta sebagian dibantu dengan pihak ketiga yang ia sebut, third party manufacturer. Sayangnya ia tidak merinci siapa rekan yang digandeng untuk memproduksi Sariwangi itu.


UNVR berkomitmen untuk tetap menyediakan brand teh celup tersebut, dimana perusahaan mengklaim teh tersebut sebagai market leader di segmennya. Mengenai berapa kemampuan volume produksi Unilever untuk teh celup itu, Santiko tidak dapat memberikan detilnya. Sebelumnya dalam pemberitaan Kontan.co.id, tercatat bahwa mantan rekan UNVR yakni PT SAEA saja mampu memproduksi kurang lebih 40.000 ton-50.000 ton teh celup setiap tahunnya.


Mengenai kompetisi di tengah banyaknya produk teh celup dan teh olahan lainnya, Unilever tak merasa khawatir dan tetap maju dengan kemampuan bisnisnya yang adaptif. "Sebab kami akan terus berinovasi," sebut Sancoyo. Adapun jauh-jauh hari, UNVR sempat melakukan pembaruan untuk segmen teh celup dengan merilis brand produk Sarimurni. Menurut laporan keuangan tahun 2017, kategori teh ini berhasil memberikan pertumbuhan yang positif serta peningkatan marjin yang signifikan karena harga komoditas yang lebih rendah dan karena adanya inisiatif penghematan.


UNVR menilai Sarimurni menunjukkan kinerja yang sangat kuat, cukup sukses meningkatkan pangsa pasar dan memposisikan diri sebagai pemimpin pasar pada segmen teh vanila. Unilever mengklaim Sarimurni tumbuh di atas pertumbuhan rata-rata segmennya di tahun 2017 lalu.


Menilik laporan keuangan perseroan sampai semester-I 2018, sektor makanan dan minuman (mamin) menyumbang 33% dari total pendapatan UNVR, yakni Rp 7,117 triliun. Capaian penjualan mamin naik mini kurang dari 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 7,110 triliun.


Sementara penyumbang terbesar berasal dari segmen home and personal care sebanyak Rp 14,06 triliun di semester-I 2018. Jumlah tersebut turun mini dibandingkan capaian di semester-I 2017 yang senilai Rp 14,15 triliun.


Secara total penjualan bersih UNVR tercatat turun sekitar 0,3% menjadi Rp 21,18 triliun dari sebelumnya Rp 21,26 triliun. Sedangkan laba bersih yang diperoleh pada paruh pertama tahun ini sebesar Rp 3,69 triliun, turun sekitar 0,5% dibandingkan tahun lalu yang mencatatkan nilai Rp 3,71 triliun.





Sumber: 

http://kaltim.tribunnews.com/2018/10/18/perusahaan-teh-sariwangi-bangkrut-kronologis-dibalik-bangkrutnya-pelopor-teh-celup-di-indonesia?page=3
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3670292/unilever-sariwangi-bukan-bagian-anak-usaha
http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/10/18/saea-pailit-unilever-akhirnya-produksi-sendiri-teh-sariwangi

1. Terlambat

Terlambat sudah menjadi kebiasaan padahal itu bukan merupakan hal yang bagus untuk ditiru dan seharusnya dihilangkan. Tapi keterlambatan sudah menjadi budaya di Indonesia.
Solusi : Bangun lebih pagi dan mengatur kegiatan agar tidak terlambat lagi.

2. Tidur larut malam (Begadang)
Tidur terlalu larut sudah menjadi kebiasaan, bahkan menjadi budaya di Indonesia. Anak-anak muda yang tidak ada kegiatan mungkin akan menghabiskan waktunya dengan begadang atau tidur larut malam. padahal kondisi tersebut tidak baik bagi kesehatan, karena seharusnya jam 10 malam kondisi tubuh harus segera di istirahatkan. 
Solusi : Biasakan untuk memiliki kegiatan agar tubuh kita menjadi lelah dan akan lebih mudah untuk tidur tepat waktu.

3. Bangun terlalu siang
Bangun terlalu siang juga merupakan akibat dari tidur yang terlalu larut. Bangun siang di kala hari libur datang sudah menjadi kebiasaan, pada hari lain digunakan untuk kerja dan pada saat hari libur digunakan untuk tidur hingga siang. Padahal itu juga merupakan kebiasaan yang buruk. Kita seharusnya memulai hari dengan bangun pagi dan olahraga secukupnya.
Solusi : Biasakan pasang alarm dan tidur jangan terlalu larut karena akan menyebabkan rasa kantuk yang berlebih.

4. Sering menunda-nunda pekerjaan
Menunda-nunda pekerjaan juga menjadi salah satu kondisi yang sering dilakukan oleh orang-orang Indonesia dan sudah dianggap buda di Indonesia saking seringnya dilakukan oleh orang. Seharusnya kita melakukan pekerjaan atau kegiatan dan cepat dan tepat agar hasil yang didapatkan juga memuaskan.
Solusi : Tulis pekerjaan atau kegiatan apa saja yang ada, dan lakukan pekerjaan atau kegiatan tersebut dari yang deadlinenya paling cepat.

5. Boros
Boros adalah hal yang tidak baik, dan banyak sekali orang yang menghambur-hamburkan uang untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Karena orang Indonesia cenderung mementingkan gengsi daripada kebutuhan yang sebenarnya harus di beli terlebih dahulu.
Solusi : Biasakan untuk menyisihkan uang secara konsisten setaip harinya dan tulis apa saja kebutuhan yang harus dipenuhi atau dibeli terlebih dahulu.




NAMA : BIANCA AYU SARASWATI
NPM : 1B117083
KELAS : 5KA44

LEMBAGA-LEMBAGA AUDIT SISTEM INFORMASI DI INDONESIA
  • BPK RI
BPK RI didirikan tahun 1946 yang bertugas untuk melakukan audit yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dan tanggung jawab yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lain seperti Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Dewan Pelayanan Publik, dan lembaga lain yang mengelola keuangan negara. BPK RI menyerahkan hasil audit kepada DPR, DPD, dan DPRD sesua dengan kewnangan masing-masing.
  • Keuangan BPKP (Badan Pengawasan dan Pembangunan)
BPKP didirikan tahun 2006. BPKP bertugas mengendalikan keuangan dan pengawasan pembangunan nasional serta meningkatkan pendapatan negara dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengeluaran anggaran pemerintah nasional dan regional. Tugas lain BPKP adalah mengevaluasi penerapan sistem pengendalian internal untuk mendeteksi dan menghalangi korupsi, serta menginvestigasi penyelewengan keuangan.
  • LPAI
LPÄI Lembaga Pengembangan Auditor Internal adalah lembaga yang concern terhadap pengembangan SDM bidang audit internal. Sebagai salah satu divisi training dari Proesdeem Indonesia lembaga konsultan manajemen yang sejak 1995 memfokuskan kegiatannya pada pelatihan manajemen — LPÄI menyelenggarakan pelatihan internal audit dan fraud audit secara lengkap, terprogram-berkesinambungan, serta kurikulum berkualitas. Pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI senantiasa dievaluasi dan diupdate — mengacu pada perkembangan pengetahuan dan praktek bisnis paling mutakhir — dimana benchmarknya adalah lembaga-lembaga internal audit dan fraud audit yang sudah dikenal baik reputasinya di dunia.
Selain itu program pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI didukung oleh tenaga instruktur berpengalaman, baik sebagai instruktur maupun sebagai auditor ataupun praktisi manajemen lainnya serta memiliki background pendidikan S2 dan Ph.D. dari dalam dan luar negeri. Sebagian besar instruktur LPAI adalah praktisi audit yang memiliki sertifikat keahlian atau profesi seperti CIA, CFE, CISA, dan sebagainya.



Sumber :
https://dwianita96.wordpress.com/2017/10/13/lembaga-lembaga-audit-sistem-informasi-di-indonesia/


            1. ISACA
ISACA adalah suatu organisasi profesi internasional di bidang tata kelola teknologi informasi yang didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1967. Awalnya dikenal dengan nama lengkap Information Systems Audit and Control Association, saat ini ISACA hanya menggunakan akronimnya untuk merefleksikan cakupan luasnya di bidang tata kelola teknologi informasi.
ISACA telah memiliki kurang lebih 70.000 anggota yang tersebar di 140 negara. Anggota ISACA terdiri dari antara lain auditor sistem informasikonsultan, pengajar, profesional keamanan sistem informasi, pembuat perundangan, CIO, serta auditor internal. Jaringan ISACA terdiri dari sekitar 170 cabang yang berada di lebih dari 60 negara, termasuk di Indonesia.

2. IIA COSO
COSO kepanjangannya adalah Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission.
Sejarahnya, COSO ini ada kaitannya sama FCPA yang dikeluarkan sama SEC dan US Congress di tahun 1977 untuk melawan fraud dan korupsi yang marak di Amerika tahun 70-an. Bedanya, kalo FCPA adalah inisiatif dari eksekutif-legislatif, nah kalo COSO ini lebih merupakan inisiatif dari sektor swasta.
Sektor swasta ini membentuk ‘National Commission on Fraudulent Financial Reporting’ atau dikenal juga dengan ‘The Treadway Commission’ di tahun 1985. Komisi ini disponsori oleh 5 professional association yaitu: AICPAAAAFEIIIAIMA. Tujuan komisi ini adalah melakukan riset mengenai fraud dalam pelaporan keuangan (fraudulent on financial reporting) dan membuat rekomendasi2 yang terkait dengannya untuk perusahaan publik, auditor independen, SEC, dan institusi pendidikan.
Walaupun disponsori sama 5 professional association, tapi pada dasarnya komisi ini bersifat independen dan orang2 yang duduk di dalamnya berasal dari beragam kalangan: industri, akuntan publik, Bursa Efek, dan investor. Nama ‘Treadway’ sendiri berasal dari nama ketua pertamanya yaitu James C. Treadway, Jr.
Komisi ini mengeluarkan report pertamanya pada 1987. Isi reportnya di antaranya adalah merekomendasikan dibuatnya report komprehensif tentang pengendalian internal (integrated guidance on internal control). Makanya terus dibentuk COSO, yang kemudian bekerjasama dengan Coopers & Lybrand (Ehm, kira2 bisa dibilang mbahnya PwC gitu) untuk membuat report itu.
Coopers & Lybrand mengeluarkan report itu pada 1992, dengan perubahan minor pada 1994, dengan judul ‘Internal Control – Integrated Framework’. Report ini berisi definisi umum internal control dan membuat framework untuk melakukan penilaian (assessment) dan perbaikan (improvement) atas internal control. Gunanya report ini salah satunya adalah untuk mengevaluasi FCPA compliance di suatu perusahaan.
Poin penting dalam report COSO ‘Internal Control – Integrated Framework’ (1992):
Definisi internal control menurut COSO
Suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai:
§  Efektifitas dan efisiensi operasional
§  Reliabilitas pelaporan keuangan
§  Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Menurut COSO framework, Internal control terdiri dari 5 komponen yang saling terkait, yaitu:
§  Control Environment
§  Risk Assessment
§  Control Activities
§  Information and communication
§  Monitoring

            3. ISO 1799
ISO 17799 adalah standar lama yang digunakan untuk keamanan informasi yang diadopsi oleh International Organization for Standardization (ISO) pada tahun 2000. Standar ini bersumber dari British Standard yang dikenal sebagai BS7799 yang berisi praktik terbaik tentang kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi dalam sebuah organisasi. Secara resmi dikenal sebagai ISO/IEC 17799, standar ini dimaksudkan untuk memandu personil manajemen informasi yang bertugas membuat sistem keamanan. Topik dalam ISO 17799 meliputi definisi istilah keamanan informasi, mengklasifikasi jenis informasi, menguraikan persyaratan minimum, dan menyarankan respon yang sesuai untuk pelanggaran keamanan.
Pada tahun 2005, kemajuan teknologi mengharuskan revisi ISO 17799 untuk menyelaraskan dengan praktik dan kemajuan yang berlaku saat itu. Hal yang umum bagi standar ISO untuk mengalami perbaikan setiap beberapa tahun untuk memastikan pedoman, kode praktek, dan standar yang relevan dan mencerminkan teknologi dan filosofi bisnis internasional terkini. Sebagai hasil dari revisi tahun 2005, ISO 17799 dikenal sebagai ISO/IEC 17799:2005. Untuk membantu membedakan antara berbagai versi ISO 17799, standar asli dikenal sebagai ISO/IEC 17799:2000.
Pada tahun 2007, ISO dan International Electrotechnical Commission (IEC) mengubah penomoran ISO 17799 menjadi ISO/IEC 27002. Sering dirujuk sebagai ISMS Family of Standards, Seri ISO 27000 sepenuhnya berkaitan dengan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (Information Security Management Systems atau ISMS). Penomoran ulang ISO 17799 memungkinkan ISO/IEC untuk mengelompokkan berbagai standar keamanan masa depan ke dalam kategori yang mudah dirujuk. Pada tahun 2007, terjadi lagi perubahan standar untuk mengakomodasi perubahan teknologi yang terjadi.
Sejak awal, ISO 17799 berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan keamanan, kontrol akses, mendefinisikan jenis informasi, pengembangan sistem informasi, dan penilaian risiko. Pemimpin organisasi bisa menggunakan ISO 17799 sebagai panduan untuk mengembangkan sistem informasi dan memastikan keamanan sistem tersebut. Pedoman tambahan mengenai akuisisi sistem yang ada, seperti yang biasanya terjadi selama merger bisnis, juga diuraikan dalam standar ini.
Rekomendasi untuk mengembangkan praktik keamanan serta penanganan kasus pelanggaran keamanan juga dimasukkan dalam versi pertama ISO 17799. Awalnya, standar lengkap ISO 17799 meliputi sebelas bagian topik khusus. Bagian tersebut adalah kebijakan keamanan, organisasi keamanan informasi, manajemen aset, keamanan sumber daya manusia, keamanan fisik dan lingkungan, komunikasi dan manajemen operasi, kontrol akses, sistem akuisisi informasi, manajemen insiden, manajemen kelangsungan bisnis, dan kepatuhan.
ISO/IEC 27002 memiliki topik tambahan setelah bagian pengantar yang meliputi penilaian risiko secara eksklusif, sedangkan semua bagian lainnya sama dengan versi sebelumnya namun dengan revisi yang relevan.


NAMA : BIANCA AYU SARASWATI
NPM : 1B117083
KELAS : 5KA44
SUMBER :